Sayangnya (menurut pribadi) kover versi Indonesia serial novel ini tak semenarik kover versi diluar sana.

Penulis sebenarnya tidak suka membaca novel fantasi tentang penyihir, bahkan membaca novel serial Harry Potter pun tidak. Tapi novel trilogi The Black Magician dan prekuelnya ini punya daya tarik tersendiri dan patut dibaca para pecinta novel fantasi tentang dunia magis.

Dalam trilogi The Black Magician, pembaca akan menyelami kisah hidup Sonea, seorang penduduk pemukiman kumuh yang miskin dan tidak dianggap spesial sampai suatu ketika ia bisa menembus perisai para penyihir yang sedang menertibkan kota. Sone pun dicari oleh persekutuan penyihir, dari awal hingga akhir pembaca akan tahu bagaimana kehidupannya juga tentang rahasia dibalik sihir hitam yang dianggap tabu bagi penyihir sekitar. Dibagi dalam 3 novel; The Magician’s Guild, The Novice dan The High Lord.

Sedangkan di prekuelnya, The Magician’s Apprentice, tokoh utama lagi-lagi adalah seorang wanita biasa. Tessia, anak seorang penyembuh yang suka berkeliling menyembuhkan masyarakat yang membutuhkan, hanya ingin menjadi penyembuh seperti ayahnya hingga suatu ketika ia secara tidak sengaja mengeluarkan ilmu sihir ketika dilecehkan seorang penyihir. Dia pun akhirnya direkrut menjadi murid magang, yang akan diajari berbagai macam sihir. Tapi Tessia tidak bisa belajar terlalu lama karena hanya sesaat setelah itu, peperangan antara negaranya dengan pemberontak dari negara lain pecah.

Dalam novel karya seorang wanita yang juga adalah seorang desainer grafis, Trudi Canavan ini banyak ciri khas yang membuat novel ini menarik dibandingkan novel sejenis lainnya. Selain tokoh utama yang biasanya adalah seorang wanita, plot yang tak terduga dan alur cerita yang terasa pas, juga nama-nama tokoh, negara, dan hal-hal lainnya yang terasa tidak terlampau terasa seperti dibuat-buat walaupun masih asing khususnya untuk pembaca dari Indonesia. Untuk di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh penerbit Mizan Fantasi dengan ilustrasi isi yang cukup menarik.

“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.” – Paul Theroux

Apa sih definisi dari sebuah kebahagiaan? Gak semua orang bisa menjawab pertanyaan itu dengan sederhana, namun akan banyak yang menjawab jika diberikan pertanyaan apa itu penderitaan?. Eric Weiner, terusik dengan makna kebahagiaan dan berkeliling beberapa negara untuk mencari tahu dimana sih tempat paling membahagiakan di dunia ini?

Eric Weiner mendapatkan keuntungan bekerja sebagai jurnalis sehingga dia bisa berkeliling dunia dengan bantuan dana dari kantornya. Dengan bermodalkan buku catatan dan pena, khas seorang jurnalis ia pun berkeleliling beberapa negara seperti Swiss, Islandia, Bhutan, Amerika, India, Thailand, Moldova, Qatar, dan negara-negara lainnya yang memiliki keadaan negara dan juga kultur yang berbeda-beda.

Ini termasuk buku traveling, tapi lebih menyerupai novel sehingga gampang dicerna. Membacanya secara acak pun gak akan menjadi masalah, makin membuat nyaman membaca buku ini apalagi dengan suguhan imajinasi kita tentang tempat-tempat yang dia kunjungi (Buku ini minim gambar). Sayangnya terjemahan Bahasa Indonesia dalam buku ini ada sedikit kejanggalan di beberapa bagian, atau mungkin tepatnya terlampau kaku. Dan juga beberapa tulisan Eric Weiner sendiri, yang karena dia dan Indonesia memiliki budaya yang berbeda mungkin terlihat seperti kurang pas dengan budaya kita. Tapi justru itu membuat buku ini semakin menarik, melihat sudut pandang ia tentang beberapa kultur di Asia. Seperti bagaimana keadaan pasar yang bagi orang barat akan menjemukkan, becek sana-sini, dan gaung suara adzan untuk kaum muslim.

Tapi jangan berharap kamu akan dimana tempat paling membahagiakan di dunia ini, tapi dengan membaca buku The Geography of Bliss ini, banyak pelajaran selain tentang kebahagiaan juga tentang kultur di negara-negara lain yang bisa kita terapkan agar kita bisa lebih berbahagia. Seperti budaya “Mai Pen Rai” dari Thailand yang berarti “Tak apalah”, yang diucapkan ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

Korupsi, diakui atau tidak telah menjadi budaya yang mendarah daging di negeri kita tercinta ini, Indonesia. Dan fenomena inilah yang akhirnya diangkat dalam sebuah film omnibus non-komersil, Kita Versus Korupsi atau yang biasa disingkat KvK ini.

Tenang, walaupun kayaknya membahas tema yang lebih sering didengar dalam rana politik, film ini dikemas khusus agar semua kalangan masyarakat bisa menikmati dan tentunya paham dengan pesan utama yang ingin disampaikan dari film ini. KvK ini dibagi kedalam 4 film pendek yang masing-masing tidak ada kaitan selain dari topiknya itu sendiri ;

1. Rumah Perkara

2. Aku Padamu

3. Selamat Siang, Risa

4. Psssttt…Jangan Bilang Siapa-Siapa

Masing-masing film memiliki “suasana” yang berbeda. Diisi dengan cast yang menjajikan, seperti Nicholas Saputra, Tora Sudiro, Ringgo Agusrahman dan lain-lain. Penonton diajak mendalami emosi para pemain, yang dihadapi oleh sebuah keinginan dan jalan pintas yang menggiurkan. Ada pasangan pemuda-pemudi yang ingin menikah namun memiliki beragam rintangan, sang pemuda yang diperankan oleh Nicholas Saputra yang tadinya ingin melakukan kecurangan diceritakan oleh kekasihnya, Revalina S. Temat tentang seorang guru (Ringgo Agus Rahman) yang menolak untuk melakukan kecurangan sekalipun dirinya berada dalam kesusahan. Untuk anak muda pun ada film yang membahas korupsi ini, yaitu dalam Psssttt…Jangan Bilang Siapa-Siapa yang cocok ditayangkan terakhir dalam omnibus ini, dimana ada seorang siswi yang bercerita tentang kecurangannya melebihkan uang keperluan sekolah saat meminta kepada orangtuanya, lewat sudut pandang sebuah handycam. Buat yang mau sedih ada film Selamat Siang, Risa yang menceritakan seorang ayah (Tora Sudiro) yang harus memilih kesehatan sang anak atau tetap berpegang teguh pada tanggung jawab pekerjaannnya.

Uniknya lagi nih, film yang juga diputar di acara Sinema Sore di ITENAS ini ternyata diprakarsai oleh orang-orang yang sama sekali gak berkecimpung di dunia perfilman. Mereka yang bertugas memutar dibeberapa tempat di Bandung ini, ternyata punya pekerjaan yang beda-beda. Ada yang karyawan, sampai ada yang pengusaha kambing! Pokoknya film ini sangat bagus buat ditonton ditengah angin sumpek film-film Indonesia yang cuma bermodalkan badan semok dan setan lokal.

Ada 2 film tentang putri bernasib malang ini yang sama-sama tayang di tahun ini. Penulis sendiri belum menonton film satunya, “Mirror-Mirror” tetapi menurut informasi sih, kedua film ini memang memiliki target penontonnya masing-masing makanya gak masalah kalau dua film ini diputar dalam waktu yang berdekatan.

Pertamakali tahu bahwa film Snow White dalam Snow White and the Hutsman ini diperankan oleh Kristen Stewart, penulis udah underestimate dengan film ini. Apalagi Kristen Stewart terkenal banget sebagai aktris dengan wajah yang datar dan aktingnya gitu-gitu ajah (Oopps! Sorry Michael Cera!).

Diawal film kita udah disuguhkan unsur visual yang bagus. Bercerita bagaimana sang Ibu melahirkan Snow White, hingga setelah beberapa tahun ia tewas dan sang ayah yang juga Raja tak bisa berpikir jernih lalu terpancing melakukan peperangan dengan kerajaan kegelapan. Lalu bertemu Savenna, yang akhirnya dinikahinya, tapi juga harus merenggut nyawa ditangan istri barunya sendiri. Snow White pun dikurung dan setelah cukup dewasa, Ratu Savenna yang diberitahu oleh sang Cermin, bahwa akan ada satu orang yang lebih cantik darinya kecuali jika ia membunuh dan merenggut jantung orang itu, Snow White. Tapi Snow White berhasil kabur, Ratu pun menitahkan The Hunstman (Chris Hemsworth) seorang pemburu yang hobi mabuk tapi ternyata malah membantu putri malang tersebut,. Buang jauh-jauh pikiran kalau film iniakan bergaya Disney, lebih mirip dengan film Alice in Wonderland-nya Tim Burton dan seri film Narnia. Well, karena produsernya sendiri sama dengan film Alice versi kelam itu.

Snow White yang diperankan Kristen Stewart memang berubah total dari pandangan dulu saat Snow White adalah gadis lemah yang dilindungi oleh para kurcaci, karena seiring majunya film Snow White menjadi pemberani dan tak segan menghunuskan pedang. Nah! Disini nih yang agak janggal. Diawal-awal diperlihatkan bagaimana Snow White bisa menolak dan mengaku tidak bisa menghunuskan pedang ke sesama manusia, tapi proses sehingga dia bisa berani ini yang rasanya masih terlalu “loncat-loncat”.

Akting Kristen Stewart disini memang gak bagus-bagus amat. Penulis sendiri masih meragukan apakah ini dikarenakan akting Kristen Stewart yang buruk atau karena teringat berbagai macam julukan dan lelucon yang disematkan kepada Kristen Stewart ini sehingga selalu memandang negatifnya. Tapi bagaimana dia bisa keluar dari karakter Bella di Twilight series udah cukup kok. Justru penulis lebih terbayang-bayang akan sosok Thor ketika melihat akting dari Chris Hemsworth.

Untuk masalah asmara, ada William yang sejak kecil terpaksa harus berpisah dengan Snow White. Ada sedikit twist tentang masalah asmara ini. Sedikit janggal walaupun sebenernya sudah tertebak ditengah-tengah film. Masih ada juga adegan ala dongeng bagaimana seorang pangeran (tiba-tiba) memutuskan mencium sang putri yang tertidur karena buah apel.

Ratu Ravenna yang diperankan Charlize Theron adalah tokoh kesukaan penulis. Untungnya film ini gak melulu tentang bagaimana terpujinya Snow White, tapi juga bagaimana asal mula kekejian seorang Ratu Ravenna yang doyan curhat ke cermin di dinding ini. Membuat film ini lebih manusiawi karena penonton juga diberikan kesempatan untuk bersimpati pada Ratu yang akan semakin menua jika sering menggunakan kekuatannya ini.

Masalah ketegangan film ini cukup patut diacungi jempol. Dengan visualisasi yang mumpuni dan musik yang keren (terutama lagu Breath of Life dari Florence and the Machine) yang membuat film ini makin seru. Dan penonton tetap disguhkan secuil pemandangan ala dongeng yang indah agar tak bosan diberikan pemandangan yang kelam melulu.

Jadi, kapan lagi bisa menonton film ala Narnia berlatar Snow White?

“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari?

Darah saya mendadak seperempatTionghoa,

Nenek saya seorang penjual roti, dan dia,

Bersama kakek yang tidak saya kenal,

Mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Saya selalu suka dengan bagian sinopsis di setiap buku-buku karya Dee, selalu mengundang untuk segera membawa buku itu ke meja kasir lalu membabat habis setiap untaian kata-kata di dalamnya. Madre, buku yang baru sempet (dan mungkin mampu) dibeli minggu ini, padahal saya dari pertamakali baca karya-karya Dee selalu ngebet dan langsung beli setiap beliau menelurkan karya-karya terbarunya.

Madre, adalah buku berisikan prosa dan karya fiksi yang totalnya ada 13. Untuk pembaca setia blog Dee pasti sudah kenal dengan beberapa karyanya disini yang pernah beliau post di blognya. Tapi memang selalu ada yang kurang kalau gak punya buku fisiknya, dan ga bosen juga membacanya.

Tapi, bisa dibilang ini buku pertama Dee yang bikin saya kecewa. Entah karena ekspektasi saya yang berlebihan atau lainnya. Ada yang hilang dari karya ini, saya selalu menunggu alunan kata-kata Dee yang selalu membuat saya doyan membacanya berulang-ulang. Tapi disini, saya beberapakali jenuh dan memutuskan untuk meninggalkan sejenak buku ini. Ini juga diakui oleh beberapa teman saya sesama penulis ataupun sesama pecinta goresan pena Dee.

Dari cerita, yang paling saya suka pastinya cerpen Madre. Cerpen yang panjang dengan cerita yang sangat bagus tentang seorang pria yang harus siap karena mendadak hidupnya berubah karena sebuah adonan. Sebelum membaca cerpen ini saya berkali-kali membaca di media jejaring sosial, Twitter, orang-orang yang bilang sangat suka dengan cerpen Madre ini membuatnya merasa menghirup aroma roti dan bla-bla-bla yang selalu membuat saya ngiler pengen segera membeli Madre. Tapi setelah saya membacanya saya merasa datar, kurang greget.

Yang juga saya suka adalah penutup dari kumpulan prosa dan fiksi ini, Barangkali Cinta. Puisi yang sederhana dan indah, gampang dicerna dan empuk bagaikan roti. Dan, oh ya! Semangkuk Acar Untuk Cinta dan Tuhan pastinya! Walaupun saya pernah membacanya terlebih dahulu sebelum membeli buku ini.

Kesimpulannya, Madre ini tetaplah empuk untuk dinikmati. Sekalipun banyak yang kecewa dengan tulisan Dee disini, tapi saya sendiri mencoba melihat sisi positifnya. Seorang penulis seperti Dee mungkin memiliki gaya penulisan yang beragam, dan seperti kata teman saya yang suka menulis juga, akan terlalu membosankan kalau setiap tulisan selalu memakai kata-kata yang tinggi, menggelitik, puitis dan lainnya. Kita juga butuh sesuatu yang sederhana. Saya sendiri melihat Madre ini sebagai karya Dee yang sederhana. Empuk. Dan seperti makan roti untuk beberapa orang Indonesia, gak akan bikin kenyang seperti kamu memakan nasi.

“All you need is love” – Lucy

Bagaimana rasanya memiliki ayah yang berkebalikan dengan impian kebanyakan seorang anak kepada ayahnya ; berwibawa, tegas, macho dan lainnya. Tapi Sam Dawson (Sean Penn) bahkan memiliki kemampuan mental yang gak lebih dari mental seorang anak berumur 7 tahun, masih doyan membaca buku Dr. Seuss setiap malam dan berbagai rutinitas lainnya yang ogah diubah. Luccy (Dakota Fanning), seorang anak berumur 6 menjelang 7 tahun tidak merasa keberatan memiliki orang tua tunggal dengan keadaan seperti itu, tapi ini sangat berbeda dengan pandangan masyarakat sekitar.

Teman-teman Lucy merasa bahwa ayah Lucy hanyalah seorang idiot belaka, dan departemen bagian perlindungan anak khawatir bahwa seiring pertumbuhan Lucy, perkembangannya akan terhambat karena seorang ayah yang tak lebih cerdas darinya. Disini konflik dimulai, hubungan Lucy dan ayahnya terancam. Di film ini kita akan dihidangkan perjuangan Sam dan Lucy yang ingin tetap bersama tapi tak sejalan dengan kekhawatiran (atau keraguan) orang-orang tentang masa depan yang terbaik bagi Lucy.

Tapi Sam, sekalipun memiliki keterbelakangan mental juga masih punya hati dan rasa kasih sayang untuk anaknya. Bagaimana dia bertahun-tahun merawat Luccy sendirian dengan keterbatasan yang dimilikinya (walaupun dibantu tetangganya juga). Gak rela kehilangan buah hati begitu sajah, Sam dibantu teman-teman yang sama-sama memiliki keterbelakangan mental akhirnya berusaha mencari pengacara yang terbaik, hingga karena “terpaksa” kepercayaan itu jatuh ke tangan seorang pengacara wanita bernama Rita.

Bosen? Untungnya enggak. Pertama, para tokoh di film ini aktingnya bagus-bagus. Bagaimana Sean Penn jago banget meranin Sam, bagaimana Rita, si pengacara ini punya kepribadian yang unik, darah tinggi dan juga punya masalah sendiri, dan bagaimana Lucy yang piawai melakukan beragam cara agar bisa menikmati waktu bersama ayahnya. Kedua, pengambilan kameranya gak statis, gak ngebosenin padahal di film ini penonton harus rela sering-sering ngeliat suasana pengadilan dan “bacot-bacotan” antara saksi, pengacara, dan hakim.

Rita : I just don’t know what to call you: retarded, mentally retarded, mentally handicapped, mentally disabled, intellectually handicapped, intellectually disabled, developementally disabled… 

Sam : You can call me Sam.

 

Joseph Gordon-Levitt kini gak harus galau lagi karena cewek seperti di (500) Days of Summer, imbasnya malah galau gara-gara kena kanker. Adam, cuma laki-laki biasa yang tinggal serumah dengan pacarnya dan punya keluarga juga teman. Sampai suatu saat dia didiagnosa kena kanker setelah mengeluh beberapakali punggungnya sakit.

Film ini memang tentang kanker, dan sulitnya menjalani kehidupan. Tapi ga dramatis dan ga semenyedihkan yang seperti My Sister’s Keeper misalnya, mungkin lebih mirip film Sunshine Cleaning mungkin (walaupun film ini bukan tentang kanker). Adam tinggal serumah dengan sang kekasih, Rachel (Bryce Dallas Howard) yang dibenci oleh sahabat karibnya Kyle (Seth Rogen). Rachel sendiri adalah cewek yang rumit, sering dicaci oleh Kyle tapi Adam selalu memakluminya.  Juga memiliki Ibu yang sangat perhatian tapi Adam menganggapnya suatu “gangguan”, serta Ayah yang sudah pikun.

Adam harus sering ke rumah sakit, resign dari pekerjaannya dan bertemu dengan psikiater yang kurang berpengalaman, Katherine (Anna Kendrick). Katherine yang kurang pengalaman berusaha membuat Adam lebih baik, walaupun justru Adam yang harus mengajarkannya bagaimana bersikap yang “pas”. Kehidupan Adam sebagai penderita kanker memang gak mudah, tapi banyak hal-hal baru yang dia rasakan. Bagaimana hubungan antara dia dan Ibunya, sahabatnya yang “selengean”, teman-teman sependeritaannya yang lebih tua, dan hubungan-hubungannya dengan yang lain.

Film yang manis, dengan porsi yang pas. Ga perlu mendramatisir untuk menyampaikan kegetiran dalam hidup, tapi justru tetep cukup menguras air mata. Film ini mengajarkan bagaimana menghadapi sesuatu yang pahit tanpa harus berkoar-koar tentang penderitaan yang kita alami kemana-mana, dan betapa banyak cinta dari orang-orang terdekat namun dalam bentuk yang berbeda dan tak mudah dicerna.

One of the nicest movies about cancer.

Kuda! Hewan bertubuh montok dan cukup sering jadi objek lukisan yang dipajang di ruang tengah ini kini jadi perhatian Steven Spielberg di film terbarunya yang bersetting tahun 1900an, War Horse. Yang juga menjadi film Spielberg pertama yang diedit secara digital.

Albert Narracott mendapatkan kuda yang memang sudah ia dambakan, setelah ayahnya memenangkan lelang dengan harga yang tinggi. Padahal awalnya, sang ayah hanya berniat membeli kuda untuk membantu membajak setelah diperintah oleh istrinya. Joey, nama kuda montok yang dikenal lihai dan cekatan ini dipercaya oleh Albert bisa mengatasi masalah hutang-piutang keluarganya. Dengan cara yang bersahabat.

Tapi ternyata suatu waktu persahabatan Albert dan Joey harus berpisah, karena Joey dijual oleh ayahnya untuk mengikuti sebuah perang. Ini baru perjalanan pertama Joey, dimana dia nantinya berkelana dan berjumpa dengan orang-orang dengan kisah yang berbeda tapi tetap dalam ikatan yang sama seperti; seorang kapten, gadis remaja yang hanya tinggal bersama kakeknya, sepasang tentara kakak-adik yang punya janji kepada ibunya, dua orang tentara dari kubu yang berlawanan, dan tokoh-tokoh lainnya. Jangan lupakan juga pendamping Joey, kuda hitam yang suatu waktu dinamakan Prince.

Manis! Film berdurasi hampir 2 jam setengah yang diadaptasi dari novel tahun 1982 oleh Michael Morpurgo ini gak membosankan untuk ditonton. Cerdik juga bagaimana film ini menyindir kita semua tentang pertikaian atau peperangan lewat seekor kuda. Salah satunya dimana 2 tentara dari pihak Inggris dan Jerman, yang justru melakukan hal yang tak terduga saat membantu Albert terjebak dari lilitan pagar dan bagaimana sebuah pertikaian sebenarnya bisa diselesaikan dengan sederhana jika gengsi tidak dikedepankan.

Kadar “drama” nya cukup pas menurut saya. Gak terlalu mendayu-dayu tapi gak beku juga. One of those heartwarming movies you should watch. Musik dan sinematografi gak begitu spesial menurut saya, cukup sampai dalam kata “pas”.

I love books as much as I love Italian. I’ve been in love with Italian language more than 1 year ago. I love the way that language being spoken (so melodic), I love their culture, and art too (include movies and music). So this is my wishlist of Italian-related books for this year.

ImageImage

 

The Secret Life of Bees, novel karya Sue Monk Kidd terbitan tahun 2002 yang sudah difilmkan ini masuk dalam daftar New York Times Best Seller. Filmnya yang ditayangkan pada tahun 2008 ini diperankan diantaranya oleh Dakota Fanning dan Alicia Keys. Novel ini bersetting tahun 1960an dimana saat itu hak asasi manusia belum dirasa “manis” oleh para penduduk berkulit hitam.

 

Sinopsis

Lily Owens (14 tahun) punya masa lalu yang kelam, dia punya ingatan masa kecil  bahwa dia secara tidak sengaja membunuh Ibu kandungnya sendiri saat mereka akan kabur dari rumah karena Ayah yang jahat. T.Ray sang ayah ini memang jahat dan sering menyiksa Lily secara berlebihan hanya karena masalah sepele.  Mereka berdua hidup sebagai petani buah persik di pinggiran Sylvan, South Carolina, Amerika Serikat.

Untung setelah Ibu Lily meninggal dunia, ada Rosaleen. Wanita kulit hitam yang hampir-hampir tidak mempunyai sopan santun sama sekali dan sering membuat Lily jengkel, namun sebenernya sangat menyayangi Lily dan ingin memberikan yang terbaik untuknya. Sampai suatu ketika Lily ikut Rosaleen ke kota dan nasib malang menimpa mereka. Rosaleen yang ingin mendaftar untuk voting dilecehkan oleh 3 laki-laki berkulit putih yang sangat rasis, Rosaleen yang tak terima begitu sajah akhirnya meludahi sepatu mereka. Ketiga lelaki rasis itu pun geram lalu Rosaleen di aniaya dan mereka berdua dijebloskan ke penjara.

Lily hanya punya sepotong kenangan tentang Ibunya. Dan beberapa barang yang dia temukan, salah satunya sebuah gambar Black Mary dengan tulisan tangan ibunya sendiri dibagian belakang ; “Tiburon, South Carolina”. Dia membayangkan bagaimana Ibunya dulu pernah menapakkan kaki disana.

Lily masih beruntung bisa pulang ke rumah karena T.Ray datang menjemputnya. Namun Rosaleen tetap mendekam di penjara dan T.Ray tidak bisa berbuat apa-apa, masih untung Rosaleen tetap hidup, begitu katanya. Tentu sajah Lily sangat kehilangan sosok Rosaleen dan sangat ingin menolongnya keluar dari jeruji itu bagaimanapun caranya. Apalagi setelah T.Ray lagi-lagi menyiksa Lily karena merepotkannya  dan mengatakan bahwa Ibunya tidak mencintainya dan pergi meninggalkannya. Bebaskan Rosaleen lalu kabur ke Tiburon, pikirnya. Siapa tahu dia juga bisa bertemu dengan Ibunya dan membuktikan pada T.Ray bahwa omongannya tidak benar.

Lily dan Rosaleen akhirnya berhasil kabur. Di Tiburon mereka tinggal dalam sebuah rumah berwarna merah jambu  milik 3 saudari berkulit hitam. Lily mengaku sebagai anak yatim dan tidak mempunyai sanak saudara disana sehingga dia meminta untuk tinggal sementara dirumahnya sambil bekerja dan menabung untuk menemui bibinya di Virginia. Nama penghuni rumah itu diambil dari nama-nama bulan, August yang paling tua, lalu June dan May. June sendiri tidak suka pada Lily dan Rosaleen dan ingin agar segera mereka segera pergi.

Disana Lily belajar bagaimana dia mengolah madu dan hal-hal baik yang bisa dipelajari dari para lebah. Dia pun belajar bagaimana dia seharusnya mencintai dirinya sendiri, juga mencari tahu kebenaran tentang Ibunya dan cinta. Lily juga ikut serta pada upacara Daughters of Mary yang diadakan di rumah itu dan dipimpin langsung oleh August. Bagaimana orang-orang disana menerimanya dan mengajarkan padanya tentang menerima dan mencintai apa adanya tanpa sekat. Juga perasaannya pada cowok berkulit hitam yang menurutnya sangat manis, Zach.

Cerita tidak berfokus pada Lily, tapi juga tiap karakter didalam cerita. Bagaimana June selalu menolak untuk menikahi Neil namun tidak rela kehilangannya, lalu May yang selalu bisa “tertular” perasaan sedih dari orang lain, Zach yang ingin menjadi seorang pengacara dan mengadili semua orang tanpa memandang warna kulit, dan lainnya.

 

IMO

Manis, kata itu kayaknya pas buat menggambarkan novel ini, yang saya beli di sebuah toko yang khusus menjual buku-buku import bekas. Saya beruntung bisa mendapatkannya dengan kondisi yang saya suka; kover masih utuh, kertas yang kecoklatan, dan bau khas buku yang “hampir tua”. Jangan baca buku ini kalau niatnya untuk tahu lebih dalam tentang diskriminasi orang kulit hitam di Amerika tahun 60an, karena hal itu sebenernya cuma jadi latar disini. Ceritanya selain manis juga gak terlalu melankolis, ada kejujuran disana tanpa harus dibumbui kesedihan secara dramatis. Mengajarkan kepada kita bagaimana kita seharusnya menjalani hidup dengan menerima dan mencintai diri sendiri dan orang-orang disekitar kita, apapun yang telah terjadi.

 

Quotes

Regrets don’t help anything, you know that. ” – August.

“ Drifting off to sleep, I tought about her. How nobody is perfect.  How you just have to close your eyes and breathe out and let the puzzle of the human heart be what it is. ” – Lily Owens.

“ If you need something from somebody, always give that person a way to hand it to you. “ – August.

“ No time like the present. “  – Rosaleen.