Kuda! Hewan bertubuh montok dan cukup sering jadi objek lukisan yang dipajang di ruang tengah ini kini jadi perhatian Steven Spielberg di film terbarunya yang bersetting tahun 1900an, War Horse. Yang juga menjadi film Spielberg pertama yang diedit secara digital.

Albert Narracott mendapatkan kuda yang memang sudah ia dambakan, setelah ayahnya memenangkan lelang dengan harga yang tinggi. Padahal awalnya, sang ayah hanya berniat membeli kuda untuk membantu membajak setelah diperintah oleh istrinya. Joey, nama kuda montok yang dikenal lihai dan cekatan ini dipercaya oleh Albert bisa mengatasi masalah hutang-piutang keluarganya. Dengan cara yang bersahabat.

Tapi ternyata suatu waktu persahabatan Albert dan Joey harus berpisah, karena Joey dijual oleh ayahnya untuk mengikuti sebuah perang. Ini baru perjalanan pertama Joey, dimana dia nantinya berkelana dan berjumpa dengan orang-orang dengan kisah yang berbeda tapi tetap dalam ikatan yang sama seperti; seorang kapten, gadis remaja yang hanya tinggal bersama kakeknya, sepasang tentara kakak-adik yang punya janji kepada ibunya, dua orang tentara dari kubu yang berlawanan, dan tokoh-tokoh lainnya. Jangan lupakan juga pendamping Joey, kuda hitam yang suatu waktu dinamakan Prince.

Manis! Film berdurasi hampir 2 jam setengah yang diadaptasi dari novel tahun 1982 oleh Michael Morpurgo ini gak membosankan untuk ditonton. Cerdik juga bagaimana film ini menyindir kita semua tentang pertikaian atau peperangan lewat seekor kuda. Salah satunya dimana 2 tentara dari pihak Inggris dan Jerman, yang justru melakukan hal yang tak terduga saat membantu Albert terjebak dari lilitan pagar dan bagaimana sebuah pertikaian sebenarnya bisa diselesaikan dengan sederhana jika gengsi tidak dikedepankan.

Kadar “drama” nya cukup pas menurut saya. Gak terlalu mendayu-dayu tapi gak beku juga. One of those heartwarming movies you should watch. Musik dan sinematografi gak begitu spesial menurut saya, cukup sampai dalam kata “pas”.