“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari?

Darah saya mendadak seperempatTionghoa,

Nenek saya seorang penjual roti, dan dia,

Bersama kakek yang tidak saya kenal,

Mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Saya selalu suka dengan bagian sinopsis di setiap buku-buku karya Dee, selalu mengundang untuk segera membawa buku itu ke meja kasir lalu membabat habis setiap untaian kata-kata di dalamnya. Madre, buku yang baru sempet (dan mungkin mampu) dibeli minggu ini, padahal saya dari pertamakali baca karya-karya Dee selalu ngebet dan langsung beli setiap beliau menelurkan karya-karya terbarunya.

Madre, adalah buku berisikan prosa dan karya fiksi yang totalnya ada 13. Untuk pembaca setia blog Dee pasti sudah kenal dengan beberapa karyanya disini yang pernah beliau post di blognya. Tapi memang selalu ada yang kurang kalau gak punya buku fisiknya, dan ga bosen juga membacanya.

Tapi, bisa dibilang ini buku pertama Dee yang bikin saya kecewa. Entah karena ekspektasi saya yang berlebihan atau lainnya. Ada yang hilang dari karya ini, saya selalu menunggu alunan kata-kata Dee yang selalu membuat saya doyan membacanya berulang-ulang. Tapi disini, saya beberapakali jenuh dan memutuskan untuk meninggalkan sejenak buku ini. Ini juga diakui oleh beberapa teman saya sesama penulis ataupun sesama pecinta goresan pena Dee.

Dari cerita, yang paling saya suka pastinya cerpen Madre. Cerpen yang panjang dengan cerita yang sangat bagus tentang seorang pria yang harus siap karena mendadak hidupnya berubah karena sebuah adonan. Sebelum membaca cerpen ini saya berkali-kali membaca di media jejaring sosial, Twitter, orang-orang yang bilang sangat suka dengan cerpen Madre ini membuatnya merasa menghirup aroma roti dan bla-bla-bla yang selalu membuat saya ngiler pengen segera membeli Madre. Tapi setelah saya membacanya saya merasa datar, kurang greget.

Yang juga saya suka adalah penutup dari kumpulan prosa dan fiksi ini, Barangkali Cinta. Puisi yang sederhana dan indah, gampang dicerna dan empuk bagaikan roti. Dan, oh ya! Semangkuk Acar Untuk Cinta dan Tuhan pastinya! Walaupun saya pernah membacanya terlebih dahulu sebelum membeli buku ini.

Kesimpulannya, Madre ini tetaplah empuk untuk dinikmati. Sekalipun banyak yang kecewa dengan tulisan Dee disini, tapi saya sendiri mencoba melihat sisi positifnya. Seorang penulis seperti Dee mungkin memiliki gaya penulisan yang beragam, dan seperti kata teman saya yang suka menulis juga, akan terlalu membosankan kalau setiap tulisan selalu memakai kata-kata yang tinggi, menggelitik, puitis dan lainnya. Kita juga butuh sesuatu yang sederhana. Saya sendiri melihat Madre ini sebagai karya Dee yang sederhana. Empuk. Dan seperti makan roti untuk beberapa orang Indonesia, gak akan bikin kenyang seperti kamu memakan nasi.