Ada 2 film tentang putri bernasib malang ini yang sama-sama tayang di tahun ini. Penulis sendiri belum menonton film satunya, “Mirror-Mirror” tetapi menurut informasi sih, kedua film ini memang memiliki target penontonnya masing-masing makanya gak masalah kalau dua film ini diputar dalam waktu yang berdekatan.

Pertamakali tahu bahwa film Snow White dalam Snow White and the Hutsman ini diperankan oleh Kristen Stewart, penulis udah underestimate dengan film ini. Apalagi Kristen Stewart terkenal banget sebagai aktris dengan wajah yang datar dan aktingnya gitu-gitu ajah (Oopps! Sorry Michael Cera!).

Diawal film kita udah disuguhkan unsur visual yang bagus. Bercerita bagaimana sang Ibu melahirkan Snow White, hingga setelah beberapa tahun ia tewas dan sang ayah yang juga Raja tak bisa berpikir jernih lalu terpancing melakukan peperangan dengan kerajaan kegelapan. Lalu bertemu Savenna, yang akhirnya dinikahinya, tapi juga harus merenggut nyawa ditangan istri barunya sendiri. Snow White pun dikurung dan setelah cukup dewasa, Ratu Savenna yang diberitahu oleh sang Cermin, bahwa akan ada satu orang yang lebih cantik darinya kecuali jika ia membunuh dan merenggut jantung orang itu, Snow White. Tapi Snow White berhasil kabur, Ratu pun menitahkan The Hunstman (Chris Hemsworth) seorang pemburu yang hobi mabuk tapi ternyata malah membantu putri malang tersebut,. Buang jauh-jauh pikiran kalau film iniakan bergaya Disney, lebih mirip dengan film Alice in Wonderland-nya Tim Burton dan seri film Narnia. Well, karena produsernya sendiri sama dengan film Alice versi kelam itu.

Snow White yang diperankan Kristen Stewart memang berubah total dari pandangan dulu saat Snow White adalah gadis lemah yang dilindungi oleh para kurcaci, karena seiring majunya film Snow White menjadi pemberani dan tak segan menghunuskan pedang. Nah! Disini nih yang agak janggal. Diawal-awal diperlihatkan bagaimana Snow White bisa menolak dan mengaku tidak bisa menghunuskan pedang ke sesama manusia, tapi proses sehingga dia bisa berani ini yang rasanya masih terlalu “loncat-loncat”.

Akting Kristen Stewart disini memang gak bagus-bagus amat. Penulis sendiri masih meragukan apakah ini dikarenakan akting Kristen Stewart yang buruk atau karena teringat berbagai macam julukan dan lelucon yang disematkan kepada Kristen Stewart ini sehingga selalu memandang negatifnya. Tapi bagaimana dia bisa keluar dari karakter Bella di Twilight series udah cukup kok. Justru penulis lebih terbayang-bayang akan sosok Thor ketika melihat akting dari Chris Hemsworth.

Untuk masalah asmara, ada William yang sejak kecil terpaksa harus berpisah dengan Snow White. Ada sedikit twist tentang masalah asmara ini. Sedikit janggal walaupun sebenernya sudah tertebak ditengah-tengah film. Masih ada juga adegan ala dongeng bagaimana seorang pangeran (tiba-tiba) memutuskan mencium sang putri yang tertidur karena buah apel.

Ratu Ravenna yang diperankan Charlize Theron adalah tokoh kesukaan penulis. Untungnya film ini gak melulu tentang bagaimana terpujinya Snow White, tapi juga bagaimana asal mula kekejian seorang Ratu Ravenna yang doyan curhat ke cermin di dinding ini. Membuat film ini lebih manusiawi karena penonton juga diberikan kesempatan untuk bersimpati pada Ratu yang akan semakin menua jika sering menggunakan kekuatannya ini.

Masalah ketegangan film ini cukup patut diacungi jempol. Dengan visualisasi yang mumpuni dan musik yang keren (terutama lagu Breath of Life dari Florence and the Machine) yang membuat film ini makin seru. Dan penonton tetap disguhkan secuil pemandangan ala dongeng yang indah agar tak bosan diberikan pemandangan yang kelam melulu.

Jadi, kapan lagi bisa menonton film ala Narnia berlatar Snow White?

About these ads