Korupsi, diakui atau tidak telah menjadi budaya yang mendarah daging di negeri kita tercinta ini, Indonesia. Dan fenomena inilah yang akhirnya diangkat dalam sebuah film omnibus non-komersil, Kita Versus Korupsi atau yang biasa disingkat KvK ini.

Tenang, walaupun kayaknya membahas tema yang lebih sering didengar dalam rana politik, film ini dikemas khusus agar semua kalangan masyarakat bisa menikmati dan tentunya paham dengan pesan utama yang ingin disampaikan dari film ini. KvK ini dibagi kedalam 4 film pendek yang masing-masing tidak ada kaitan selain dari topiknya itu sendiri ;

1. Rumah Perkara

2. Aku Padamu

3. Selamat Siang, Risa

4. Psssttt…Jangan Bilang Siapa-Siapa

Masing-masing film memiliki “suasana” yang berbeda. Diisi dengan cast yang menjajikan, seperti Nicholas Saputra, Tora Sudiro, Ringgo Agusrahman dan lain-lain. Penonton diajak mendalami emosi para pemain, yang dihadapi oleh sebuah keinginan dan jalan pintas yang menggiurkan. Ada pasangan pemuda-pemudi yang ingin menikah namun memiliki beragam rintangan, sang pemuda yang diperankan oleh Nicholas Saputra yang tadinya ingin melakukan kecurangan diceritakan oleh kekasihnya, Revalina S. Temat tentang seorang guru (Ringgo Agus Rahman) yang menolak untuk melakukan kecurangan sekalipun dirinya berada dalam kesusahan. Untuk anak muda pun ada film yang membahas korupsi ini, yaitu dalam Psssttt…Jangan Bilang Siapa-Siapa yang cocok ditayangkan terakhir dalam omnibus ini, dimana ada seorang siswi yang bercerita tentang kecurangannya melebihkan uang keperluan sekolah saat meminta kepada orangtuanya, lewat sudut pandang sebuah handycam. Buat yang mau sedih ada film Selamat Siang, Risa yang menceritakan seorang ayah (Tora Sudiro) yang harus memilih kesehatan sang anak atau tetap berpegang teguh pada tanggung jawab pekerjaannnya.

Uniknya lagi nih, film yang juga diputar di acara Sinema Sore di ITENAS ini ternyata diprakarsai oleh orang-orang yang sama sekali gak berkecimpung di dunia perfilman. Mereka yang bertugas memutar dibeberapa tempat di Bandung ini, ternyata punya pekerjaan yang beda-beda. Ada yang karyawan, sampai ada yang pengusaha kambing! Pokoknya film ini sangat bagus buat ditonton ditengah angin sumpek film-film Indonesia yang cuma bermodalkan badan semok dan setan lokal.